Live for love lingua
Background Illustrations provided by: http://edison.rutgers.edu/

Teruntuk Negeri Ini

Negeriku…
Aku ingin berbicara denganmu. Empat mata. Cukup hanya kita berdua. Mungkin kamu akan sedikit enggan, karena aku akan sedikit melakukan pemaksaan.

Aku akan memaksa untukmu bercerita dan meluapkan semua murka. Ini akan membuatmu lega. Tolong, jangan lukai diri sendiri lagi. Ku mohon..marahlah padaku dan luapkan semua kecewamu.

Aku tahu terlalu berat beban yang kau bawa. Terlalu pilu menelan semua sembilu dalam ambigu. Hanya berteman bayangan petinggi masa lalu, yang mencintaimu tanpa kenal keliru. Para tokoh itu memang tak pernah keliru untuk memperjuangkan kehormatanmu. Tapi itu dulu. Di sini aku bersedia menjalani hari ke depan bersamamu dengan cinta baru yang berbeda dengan mereka yang dulu.

Tatap mataku!!! Sosok seindahmu tak seharusnya dirundung amarah tanpa arah.
Mengarahlah padaku!!!
Bolehkah aku menemanimu menemukan cara marah yang baru?
Marahlah dengan cara yang indah, yang dengan marah itu kamu tetap menjadi sosok yang mewah. Hanya di depan mereka saja. Kepadaku marahlah sejadi-jadinya jika itu sanggup meringankan langkah. Jangan marah dengan membuat dirimu terluka parah. Akan membuatmu sulit untuk melangkah. Lalu berbahaya untuk masa depan yang cerah. Ronamu akan tertutup sudah.

Negeriku…
Dengan sabar aku akan mendengar bahasamu. Ungkapan yang tak terutara dan mencoba menterjemahkan marahmu sebisa aku memahamimu. Tuturkan apa saja. Ucapkan kalimat apa saja yang pernah, sedang dan akan mengganggumu di hadapanku. Jika kamu tak kuasa, aku akan membantumu untuk tidak memikirkan siapa-siapa selain dirimu saja. Tutup matamu. Tutup telingamu. Kamu bukan apa yang mereka bicarakan di media-media penyiaran. Jangan dengarkan keributan perpolitikan ciptaan mereka. Kamu harus berdiri dengan jatidirimu sendiri. Hanya kamu.

Negeriku…
Ini adalah pertemuan kita saja. Pembicaraan di keheningan yang hanya bisa kita lakukan tanpa kelihatan. Aku merasakan pergerakan menuju perbaikan adalah perjuangan. Metamorfosis yang mungkin tak di sadari dalam keburukan dan tersadar hanya setelah menunjukkan keindahan. Kamu adalah salah satu.

Bolehlah ku beri tahu, ada perjuangan tersembunyi yang dilakukan untuk memperjuangkan keutuhan harga diri yang mulai padam. Perjuangan yang tidak berada dalam perpolitikan, juga tidak dari pemerintahan. Ini hanya masalah perbaikan tatanan besar-besaran yang di rancang dalam kesederhanaan.

Kamu tahu, Negeriku!!! Kegetiran dalam amarahmu itu adalah bekal untukku memperjuangkan. Di saat beberapa anak muda seusiaku berkoar menuntut perubahanmu pada petinggi-petinggi itu. Aku hanya menyimpan asa dalam diam, sembari sayup-sayup mendengar semua rintihan keluhan yang tidak terkatakan. Ada hal-hal yang ku yakini, bahwa aku memiliki jalur pribadi untuk membuatmu berseri. Aku hanya menuntut diri dari setiap hal kecil yang ku jalani adalah sepenuh hati ku lakukan untuk negeri ini. Aku pun percaya bahwa masih banyak anak muda dengan asa yang sama. Aku hanya ingin mencipta asmosfir berbeda yang bisa mengundang mereka untuk berkarya dengan apa yang ada, dengan segala keindahan sumber daya yang kau punya. Belum banyak yang ku bisa, baru kalimat-kalimat ini saja yang keluar dari buah penafsiran pengalaman yang ada. Masih ada banyak kata juga asa yang ingin ku cipta Teruntuk Negeriku, Indonesia.

-Re-

Deretan

Aku masih terfikirkan dengan deretan angka kemarin sore. Menjelang pukul 4 di waktu yang memang selalu sibuk dengan proses periode setiap harinya, aku di hadiahkan dengan ‘confirm by phone’ seorang nasabah yang ingin bertransaksi menjual CHF 65.000. Aku masih ingat, dengan kurs kemarin sore 65.000 Swiss Frank itu senilai 823.225.000 rupiah.

Dana semula yang ku punya untuk membayar pinjaman rekening laba pun belum mencukupi. Alih-alih membayar aku menjadikan jumlah pinjaman membengkak untuk satu transaksi ini. Transaksi tinggi di sore hari memang menguji diri. Namun, hal yang ku khawatirkan bukanlah tentang ketersediaan rupiah yang masih bisa ku upayakan.

Pertama, aku khawatir dengan keaslian uang yang ku terima. Meski untuk Swiss Frank ini belum ada yang memalsukan, seperti halnya Singapore Dollar. Aku tetap saja berjaga-jaga. Ini bukan transaksi ratusan ribu rupiah.

Kedua, aku khawatir di jam-jam itu Money Changer lain sudah tidak menerima valas buangan, terlebih untuk transaksi di atas 500jt, sementara kantor pusat saja sudah ‘close market’ di jam-jam itu, yang secara otomatis pusat sudah tidak terima transaksi jual-beli valuta.

Ketiga, meski valas itu bisa terjual aku khawatir dengan cara pembayaran yang diberikan. “Alamat akan menimbun banyak tunai.” yang artinya aku pun menimbun banyak pinjaman.

Keempat, kekhawatiran mengarah pada nasabah. Sebagai yang menjalankan proses pemindahbukuan dari satu rekening giro ke rekening lainnya aku ‘kepo’. Mengapa musti di pindahkan ke dua rekening berbeda. Dan mata uang ini adalah mata uang kedua yang ku curigai sebagai alat tukar para tikus-tikus pintar beraksi, setelah mata uang SGD. Setiap cabang yang kutangani memang selalu kesangkut kasus korupsi. Baru-baru ini cabang tempatku berdedikasi (harapannya), lagi-lagi mendapat undangan KPK untuk bersaksi. Maka dari itu aku harus berhati-hati membuat laporan transaksi. Jadi, boleh lah ya sedikit mencurigai.

Sore itu sedikit trik yang ku lakukan, dengan bermain sembunyi-sembunyian di balik nasabah yang ku curigai. Seorang teller ku mandati untuk pergi ke Money Changer kawanan yang telah mensepakati untuk menerima Swiss Frank kita. Dan kata ‘Oke’ yang ku terima dari Money Changer kawanan adalah kode oke untuk aku melakukan proses pengotorisasian pemindahbukuan.

Satu proses terselesaikan.
Tadaaaaaaa….
Kejutaaaan.

Money changer kawanan tak bisa melakukan pembayaran yang ku harapkan. Kekhawatiran pun terjawabkan. Lebih dari 1 M aku menyimpan tunai di kantor cabang. Dan itu benar-benar mengkhawatirkan. Deretan angka yang ku lihat menjelang serah terima, layaknya deretan seperti akan ku tinggal libur lebaran satu mingguan.

Deretan angka memang selalu menyilaukan. Namun, aku pribadi lebih silau pada deretan kata. Tak pernah aku merasa khawatir dengan menimbun ratusan, jutaan, milyaran, bahkan (insyaallah) triliunan deret kata. Sementara menimbun deretan angka ratusan juta saja aku sudah merasa tak karuan. Atau mungkin karena bukan deretan angka milik sendirian aku dihantui kekhawatiran. Aahhhyayayayayaaaa… Hahahahahaaaa…

19:49

Minggu ini lebih terkonsentrasi. Sudah dua hari Pa Lucky tidak masuk kerja, entah apa alasannya. Aku pun enggan bertanya. Ku kira dia masih berada di Lampung untuk keperluan keluarga. Sungguh tak ada yang beda. Oooohh.. Astaga!!! Aku lebih nyaman tak ada dia.

Fokusku lebih cermat. Konsentrasi tidak terbagi dengan candaan tak berarti. Padahal sehari-hari aku pun bercanda dengan yang lainnya. Namun, untuk satu pribadi ini, jujur aku mulai merasa terganggu. Volume transaksi hari ini cukup tinggi, dan aku justru merasa lancar sekali.

Tak ada yang diam-diam masuk ke dalam ruangan, mendekati lalu berdiam diri. Tak ada suara candaan menggoda berkata ‘masa’. Aaahh..rasanya lega. Kerjaku lebih terjaga. Fokusku tidak kemana-mana. Transaksi mendekati 4 M yang hampir setara dengan jual-beli SGD 250.000 juga USD 100.000 bisa ku selesaikan tanpa merasa kelelahan. Koordinasi dengan Kacab pun lebih terkendali. Aku senang sekali suasana ini.

Dan esok hari….
Entah apa yang akan terjadi jika yang bersangkutan hadir kembali. Mungkin ini akan menjadi urusanku sendiri, harus kuatkan diri agar tak pecah konsentrasi. Siapapun yang menjadi lawan interaksi untuk apapun yang di hadapi. Hmmmm..i’m not lucky when Pa Lucky around me :(

Lawang

Indonesia memang negara dengan kekayaan kosakata. Lawang saja memiliki beberapa makna, juga terdapat dalam beberapa bahasa daerah kita. Sepulang kerja barusan, ketika berjalan santai melalui Pasaraya Grande melintas di benakku kata “Lawang”. Mekanisme sama yang terjadi dalam diri ketika aku mememui kata yang memiliki korelasi dengan jiwa yang sedang bermetamorfosa. Lawang yang adalah pintasan pintu gerbang masuk keraton yang memintas.

Perjalananku ini mungkin berbeda. Merasa pernah terpenjara dan dibatasi segala yang boleh dan tidak boleh untuk di cerna seringkali membuatku bertanya untuk apa. Tak boleh sembarang berkata, tak boleh sembarang menyerap informasi dunia, bahkan tak boleh bertemu dengan orang-orang bernama A, B, C atau D. Padahal aku bukan siapa-siapa. Aku pun tak punya apa-apa. Tak perlulah aku di buat berbeda. Tak perlulah aku di tempatkan di ruang terjaga. Aku biasa saja.

Ku harap ini hanya skenario rekayasaku semata. Lagi-lagi karena aku biasa-biasa. Jiwaku, jika diibaratkan layaknya raga yang bisa melihat, meraba juga bicara, mungkin dia sedang menelaah suasana untuk bisa bercerita pada lalu lalang orang yang ditemukannya di depan Lawang. Posisinya kini sudah tidak berada dalam ruang yang hanya terisi oleh dia dan gaung yang mencekam. Dia mulai menemukan rasa percaya untuk menemui orang-orang, meski masih sedikit menjaga-jaga. Hanya saja dia masih belum menemukan cara bagaimana dia bercerita tentang apa yang terjadi di dalam sana. Tentang suara-suara kehidupan yang bersahutan. Dia memang sedang menelaah cara di depan lawang.

Mempersilakan beberapa orang untuk sedikit bermain bersama di taman itu saja sudah kemajuan. Setidaknya dia sudah tidak mengurung diri di dalam ruang. Bahkan kesediaannya untuk sedikit membuka pintu gerbang layak untuk di apresiasi. Dia perlu di semangati untuk perlahan membuat hilang rasa takutnya pada kata menghilang. Mungkin juga dia perlu sapa duluan, karena berada di ruangan telah membuatnya enggan untuk berkenalan dengan sapaan. Memudarkan semua keceriaan juga keberanian yang pernah tertanam.

Berada di lawang memang hal yang membingungkan untuknya sekarang. Namun, jika dia tak pernah bergerak menuju lawang, dia tak akan merasakan keceriaan orang-orang yang berlalu-lalang di depan pintu gerbang.

Melihatnya mulai sedikit bernyanyi riang di pekarangan, meski belum ada keberanian untuk keluar pintu gerbang, lalu mengitari seluruh jalanan perkotaan sudah membuat orang tuanya senang. Karena untuk pergi mengelilingi semua yang dia inginkan, ayahnya tengah mempersiapkan sebuah penjagaan. Sebagai tebusan karena telah membuat anak gadisnya merasa terpenjara dalam ruang, sang ayah ingin mewujudkan segala permintaan. Bahkan kehidupan yang hanya diisi oleh jalan-jalan pun ingin beliau persembahkan. Dengan catatan setelah perjuangannya terselesaikan dan di mulai sebuah perbaikan tatanan. Perubahan tatanan inilah yang dipersiapkannya agar bisa melepas anak perempuannya pergi berjalan-jalan dengan aman. Ini hanyalah penggalan harapan dalam kesederhanaan.

-Re-

Een beetje Nederland

Kemarin aku berkenalan dengan bahasa baru. Tidak benar-benar baru. Dulu nenek suka mengajariku berhitung dengan bahasa Belanda. Beberapa waktu lalu juga sempat mempelajarinya sedikit untuk spesifikasi bidang hukum. Sedikit pengalaman bekerjasama dengan Uwa yang seorang pengacara menimbulkan ketertarikan padaku untuk sedikit mempelajari bahasa Belanda.

Sudah lama aku ingin mempelajarinya lebih dalam. Pada mulanya tidak tahu untuk alasan apa. Namun, setelah mengenal lebih dekat aku mulai paham. Mengapa aku inginkan penguasaan dalam bahasa para “Meneer” ini.

Berada di Bandung, sempat aku menemukan sebuah tempat belajar bahasa Belanda, dengan bangunan yang sangat Belanda, juga tutor yang sedikit keBelanda-Belandaan. Tepatnya karena sudah tua. Sayangnya tak pernah ku temukan waktu untuk bisa memulai itu. Mungkin belum saatnya.

Sedikit terlupakan. Perlahan aku mengumpulkan buku bahasa Rusia, dengan sedikit juga aku mempelajari itu semua. Hingga berpindah kerja ke Jakarta. Melalui hari-hari baru sebagai pekerja mutasi yang tidak punya rencana apa-apa selain bekerja. Secara tidak sengaja aku diketemukan dengan informasi kelas bahasa Belanda di Lembaga Bahasa Internasional-FIB UI.

Masih ada sedikit keraguan. Di waktu yang bertepatan seorang saudara mengajak berkunjung ke UI untuk sebuah acara festifal budaya. Di hari yang tidak terencana itu terdaftar lah aku untuk mengikuti kelas bahasa Belanda di term ini.

Perkenalan pertama sungguh luar biasa. Ada ketertarikan yang meraja dan sulit untuk tidak ku katakan ini luar biasa. Seorang tutor bertanya
“Untuk apa belajar bahasa Belanda?”
“Ada ketertarikan dan saya bercita-cita untuk menelusuri sejarah Indonesia yang nyata.”
Yup…aku menemukan alasan di balik sebuah ketertarikan. Kebiasaan mempertanyakan keaslian yang terjadi di negeri ini pada Bapak sendiri membuat kami tidak percaya apa kata buku sejarah yang ada.

Kelak aku harus menceritakan kepada anak-anakku tentang sejarah Indonesia yang sesungguhnya. Pemikiran seperti ini yang pernah terlintas di benakku. Sebagai anak aku mempertanyakan untuk bisa diceritakan. Mungkin, jika aku menceritakan pada anak-anakku nanti akan timbul pertanyaan baru yang jauh lebih hebat dari pertanyaan-pertanyaan yang pernah ku buat. Aaaahh…sepanjang itukah pemikiran ini? Hahahaaaaa..

Perjalananku untuk mencari tahu tentang itu akan berlangsung hingga aku tiada dan tidak lepas dari pendampingan mereka. Beruntunglah aku menikmati mempelajari ini. Barangkali ini bisa menjadi sebuah kontribusi untuk mendampingi seseorang nanti. Karena Kader akan tetap menjadi Kader dan tidak akan pernah menjadi ‘Leader’.

Sementara tugas Kader yang hakiki adalah menjadi sibuk sekali di samping sosok seorang pemimpin yang sedang beraksi. Aku tidak ingin terlalu tinggi untuk meraih posisi di negeri ini. Tak perlu aku berada di salah satu kursi untuk menjadi anggota legislatif. Aku hanya ingin menjadi Kader dengan caraku sendiri. Dengan cara yang ku nikmati dan berasal dari hati. Mempelajari ini dan menyalurkan hanya pada sosok-sosok terdekat saja. Dan tak perlu berada di posisi tertinggi. Cukup lakukan dari hati dengan senang hati tanpa henti. Dan ingat!!! Ini hanya sedikit mimpi kecil. Sedikit harapan saja. Sedikit. Een beetje!!!


“Menjadi pemimpin itu menyenangkan, namun melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang lebih hebat itu jauh lebih membahagiakan”
ngutiplupadarimanatapisatupemahamanrasa

-Re-

Arah

Melangkah memang sudah titah. Kemana aku mengarah mungkin juga perintah. Tapi jika aku salah arah tolong ingatkan dengan cara yang tidak membuatku lemah, karena hatiku mudah sekali patah.
Lintasan ini adalah jalur yang tidak di jamah orang kebanyakan. Bahkan jika diceritakan mereka bisa keheranan. Namun, untuk sekarang aku saja memilih bungkam. Aku takut kalian tidak satu pemahaman. Kebanyakan orang hanya senang mendengarkan apa yang menjadi tujuan. Terlebih untuk urusan pembagian hasil. Tapi tak satupun dari mereka benar-benar paham makna perjuangan.
Aku merasa sudah sejauh ini melangkah dengan jalur terarah, menghadapi liku yang siap memberi kejutan di setiap tikungan yang ditemukan. Hampir menyerah. Dan hanya bisa pasrah “Jika ini tepat arah tolong kuatkan untuk ku terus melangkah, namun jika salah berilah aku celah agar tidak salah langkah.”

-Re-

Para Penjaga Terarium
Ada kesyukuran yang ingin ku panjatkan di tanggal 7 September lalu. Selain karena itu adalah hari sakral untuk kedua mempelai, hari itu juga menunjukkan keindahan persahabatan yang masih terjaga keakraban. Memiliki sahabat terhitung jari seperti mereka adalah luar biasa. Karena kualitas yang kita punya tidak terhitung oleh jari-jari manusia.
Aku selalu beranggapan bahwa hidupku layaknya seperti berada dalam terarium. Dimana aku berada dalam miniatur dunia berbeda dan aku melihat banyak aktifitas manusia melalui celah di balik kaca, sementara mereka tidak tahu apa yang ku rancang di dalam sana. Dan mereka-mereka yang ku punya layaknya penjaga dunia yang ku kecap.
Lebih dulu aku ingin menceritakan tentang mempelai perempuan yang kebetulan sedang berada di pelaminan, jadi yang bersangkutan tidak ikut berselfie bersama. Namanya Anggi Sri Utami, sosoknya lembut, berteman dengan siapa saja, sedikit manja, kadang lemot juga #uuuppss. Biasa kita panggil Enji, dan seringkali dia meminta di panggil Angel kepada ibu kantin sekolah dulu. Dalam fase terendah yang ku lalui Enji adalah inspirasi. Ketika aku berteman misteri, dipatahkan hingga terjatuh sekali, Enji layaknya seorang ibu yang menemani, aku didampingi juga dikuatkan untuk menghadapi. Satu hal yang membuatku merasa dibekali, dalam setiap keluhan yang ku lontarkan Enji selalu menyisipkan kalimat
“Kader, anggap aja kamu sedang menabung kebahagiaan.” 
Kalimat yang masih kusimpan dalam hati hingga kini mungkin juga nanti. Hingga pada akhirnya Tuhan memberikan tabungan kebahagiaan yang melimpah di hari pernikahannya membuatku larut dalam kesyukurannya juga. Di hari itu justru bukan hanya kata selamat yang ingin ku ucap, melainkan terima kasih tak terhingga yang bahkan lebih banyak dari yang bisa ku ucap.
Sekilas fase yang ku lalui bersama Enji, ada juga fase yang ku lalui bersama Camelia Theivera, sosok yang berada di tengah dalam foto itu. Camel si gadis Cikalong yang senang menyebut papahnya sebagai “petani teh” alih-alih sebagai seorang pengusaha juga komite sekolah kita. Kesamaan dalam hal ketakutan akan kedalaman, kebiasaan untuk membubuhkan gula dalam mie instan, juga kehilangan karena tragedi kecelakaan membuat kita merasa satu pemahaman. Bersama Camel kita berdua saling menguatkan untuk terus dan terus melangkah ke depan. Menghadapi kejatuhan lalu saling mengulurkan tangan lagi dan lagi. Kerendahhatian juga keramahan adalah kebaikan yang layak untuk ditiru darinya. Namun, jangan tiru kelonggaran yang dia lakukan. Toleransi yang diberikannya pada banyak hal terkadang merugikan #peacemel. Seperti apapun sikapmu, kamu tetap yang terindah untuk Mas Adi mu. Bahagia melihatmu itu ketika kamu selalu bisa membangun rasa baru dengan sosok yang baru. Untuk itu aku harus selalu berguru padamu.
Neng Furi yang satu-satunya mengenakan kacamata di foto itu memiliki cerita berbeda. Furi Aida Nisa yang selalu mengibaratkan dirinya seperti Puri yang kokoh memang benar-benar tangguh. Anak teknik di salah satu Politeknik di Bandung ini selalu berada diantara para pria dalam bekerja. Hebatnya dia masih memiliki kepekaan sebagai wanita. Bekasi menjadi tempatnya mengadu nasib saat ini. Meski kita pernah berkontradiksi selalu ada sisi yang membuat kita bercengkrama kembali. Dan kekokohannya untuk selalu mandiri itu yang ku kagumi. 
Mutiara Kesuma Whardany, sosok tinggi berkerudung paling sisi ini mungkin tidak banyak mendampingi. Tapi bagiku justru dia menjagaku dari berbuat melukai hati. Mumun panggilan akrab kita. Dia memiliki hubungan pertemanan dengan mantan yang pernah melukai. Pernah aku antipati untuk tidak mendekati Mumun dalam beberapa situasi. Bukan ingin memutus silaturahmi, aku hanya menjaga diri. Aku takut ketika bertemu aku akan menjelekkan namanya di depan Mumun dan merenggangkan hubungan pertemanan yang ada. Aku hanya ingin hubungan baik terjaga. Kini setelah aku menerima dan tak ada luka, aku pun bisa untuk bercengkrama tanpa harus membenci siapa-siapa. Terima kasih untuk tanpa disadari telah menjagaku dari perbuatan membenci. Selamat bahagia bersama Bang Farid yaaa…
Ada satu sosok yang selalu menemani setiap fase yang ku lalui. Putri dari Keluarga Permana. Rieska Ratna Wulan Permana. Sejak masuk SMA kita berkenalan. Tak pernah berada dalam satu kelas, tapi kita berada dalam naungan rasi yang sama. Perjalanan kita ini unik. Pernah saling berlawanan, egois-egoisan, bahkan sering bermusuhan Camel bilang. Namun, pada akhirnya kita saling berdekatan secara emosional, menangis bersama, tertawa bersama, ga jelas bersama bahkan tidur pun bersama. Keterbukaan emosi itulah yang membuat kita saling mengenal lebih dalam. Dari fase kejatuhan hingga kebangkitan. Dari fase keculunan hingga keanggunan. Rieska selalu ada dalam setiap liku yang ku terima. Entah..aku bisa berkata apa atas pemberian sosok seperti dia. Dan aku bahagia luar biasa dengan melihatnya tertawa. Bagaimana Imam tidak berbahagia memiliki sosok seperti dia. Dan dipertemukan dengan sosok-sosok indah hati juga ragawi seperti mereka adalah anugrah. Aku saja sulit mengungkap dengan kata yang bersuara. Terima kasih untuk kisah indah yang pernah kita jamah. Aku hanya bisa menterjemahkan melalui ini saja.

-Re-

Para Penjaga Terarium
Ada kesyukuran yang ingin ku panjatkan di tanggal 7 September lalu. Selain karena itu adalah hari sakral untuk kedua mempelai, hari itu juga menunjukkan keindahan persahabatan yang masih terjaga keakraban. Memiliki sahabat terhitung jari seperti mereka adalah luar biasa. Karena kualitas yang kita punya tidak terhitung oleh jari-jari manusia.
Aku selalu beranggapan bahwa hidupku layaknya seperti berada dalam terarium. Dimana aku berada dalam miniatur dunia berbeda dan aku melihat banyak aktifitas manusia melalui celah di balik kaca, sementara mereka tidak tahu apa yang ku rancang di dalam sana. Dan mereka-mereka yang ku punya layaknya penjaga dunia yang ku kecap.
Lebih dulu aku ingin menceritakan tentang mempelai perempuan yang kebetulan sedang berada di pelaminan, jadi yang bersangkutan tidak ikut berselfie bersama. Namanya Anggi Sri Utami, sosoknya lembut, berteman dengan siapa saja, sedikit manja, kadang lemot juga #uuuppss. Biasa kita panggil Enji, dan seringkali dia meminta di panggil Angel kepada ibu kantin sekolah dulu. Dalam fase terendah yang ku lalui Enji adalah inspirasi. Ketika aku berteman misteri, dipatahkan hingga terjatuh sekali, Enji layaknya seorang ibu yang menemani, aku didampingi juga dikuatkan untuk menghadapi. Satu hal yang membuatku merasa dibekali, dalam setiap keluhan yang ku lontarkan Enji selalu menyisipkan kalimat
“Kader, anggap aja kamu sedang menabung kebahagiaan.”
Kalimat yang masih kusimpan dalam hati hingga kini mungkin juga nanti. Hingga pada akhirnya Tuhan memberikan tabungan kebahagiaan yang melimpah di hari pernikahannya membuatku larut dalam kesyukurannya juga. Di hari itu justru bukan hanya kata selamat yang ingin ku ucap, melainkan terima kasih tak terhingga yang bahkan lebih banyak dari yang bisa ku ucap.
Sekilas fase yang ku lalui bersama Enji, ada juga fase yang ku lalui bersama Camelia Theivera, sosok yang berada di tengah dalam foto itu. Camel si gadis Cikalong yang senang menyebut papahnya sebagai “petani teh” alih-alih sebagai seorang pengusaha juga komite sekolah kita. Kesamaan dalam hal ketakutan akan kedalaman, kebiasaan untuk membubuhkan gula dalam mie instan, juga kehilangan karena tragedi kecelakaan membuat kita merasa satu pemahaman. Bersama Camel kita berdua saling menguatkan untuk terus dan terus melangkah ke depan. Menghadapi kejatuhan lalu saling mengulurkan tangan lagi dan lagi. Kerendahhatian juga keramahan adalah kebaikan yang layak untuk ditiru darinya. Namun, jangan tiru kelonggaran yang dia lakukan. Toleransi yang diberikannya pada banyak hal terkadang merugikan #peacemel. Seperti apapun sikapmu, kamu tetap yang terindah untuk Mas Adi mu. Bahagia melihatmu itu ketika kamu selalu bisa membangun rasa baru dengan sosok yang baru. Untuk itu aku harus selalu berguru padamu.
Neng Furi yang satu-satunya mengenakan kacamata di foto itu memiliki cerita berbeda. Furi Aida Nisa yang selalu mengibaratkan dirinya seperti Puri yang kokoh memang benar-benar tangguh. Anak teknik di salah satu Politeknik di Bandung ini selalu berada diantara para pria dalam bekerja. Hebatnya dia masih memiliki kepekaan sebagai wanita. Bekasi menjadi tempatnya mengadu nasib saat ini. Meski kita pernah berkontradiksi selalu ada sisi yang membuat kita bercengkrama kembali. Dan kekokohannya untuk selalu mandiri itu yang ku kagumi.
Mutiara Kesuma Whardany, sosok tinggi berkerudung paling sisi ini mungkin tidak banyak mendampingi. Tapi bagiku justru dia menjagaku dari berbuat melukai hati. Mumun panggilan akrab kita. Dia memiliki hubungan pertemanan dengan mantan yang pernah melukai. Pernah aku antipati untuk tidak mendekati Mumun dalam beberapa situasi. Bukan ingin memutus silaturahmi, aku hanya menjaga diri. Aku takut ketika bertemu aku akan menjelekkan namanya di depan Mumun dan merenggangkan hubungan pertemanan yang ada. Aku hanya ingin hubungan baik terjaga. Kini setelah aku menerima dan tak ada luka, aku pun bisa untuk bercengkrama tanpa harus membenci siapa-siapa. Terima kasih untuk tanpa disadari telah menjagaku dari perbuatan membenci. Selamat bahagia bersama Bang Farid yaaa…
Ada satu sosok yang selalu menemani setiap fase yang ku lalui. Putri dari Keluarga Permana. Rieska Ratna Wulan Permana. Sejak masuk SMA kita berkenalan. Tak pernah berada dalam satu kelas, tapi kita berada dalam naungan rasi yang sama. Perjalanan kita ini unik. Pernah saling berlawanan, egois-egoisan, bahkan sering bermusuhan Camel bilang. Namun, pada akhirnya kita saling berdekatan secara emosional, menangis bersama, tertawa bersama, ga jelas bersama bahkan tidur pun bersama. Keterbukaan emosi itulah yang membuat kita saling mengenal lebih dalam. Dari fase kejatuhan hingga kebangkitan. Dari fase keculunan hingga keanggunan. Rieska selalu ada dalam setiap liku yang ku terima. Entah..aku bisa berkata apa atas pemberian sosok seperti dia. Dan aku bahagia luar biasa dengan melihatnya tertawa. Bagaimana Imam tidak berbahagia memiliki sosok seperti dia. Dan dipertemukan dengan sosok-sosok indah hati juga ragawi seperti mereka adalah anugrah. Aku saja sulit mengungkap dengan kata yang bersuara. Terima kasih untuk kisah indah yang pernah kita jamah. Aku hanya bisa menterjemahkan melalui ini saja.

-Re-