Live for love lingua
Background Illustrations provided by: http://edison.rutgers.edu/

Mimpiku Satu

Sejak kecil mimpiku cuma satu, melihat Bapak dan Ibu menjadi satu. Dan setelah mimpi itu ku saksikan, aku terharu. Mungkin ini akan membosankan untuk diceritakan. Namun, memaafkan bukanlah melupakan, melainkan mampu menceritakan tanpa mengingat kesakitan bukan. Aku hanya ingin meyakinkan diri bahwa aku sudah tidak terluka lagi.

Sekarang aku bisa melihat sosok kecilku tanpa merasa sendu. Melihat sosok remajaku yang penuh marah dengan penuh pemahaman terarah. Semoga saja penglihatan ini akan meringankan langkah.

Sebagai anak kecil aku tidak punya bayangan indah. Seingatku di usia 4 aku harus menghadapi kerumitan yang sulit ku pahami. Sosokku hanya bisa diam, melihat setiap orang yang ditemui dengan penuh pertanyaan. Membiarkan setiap orang melakukan tindakan, karena aku tak paham. Mempertanyakan pada diri sendiri kenapa Bapak Ibu begitu renggang?

Untuk hal ini aku menilai orang tuaku terlalu vulgar dalam menampilkan pertengkaran. Hingga aku hanya bisa terdiam, lalu merasa ketakutan. Sendirian. Sewaktu aku belum genap usia 5 aku harus mencari-cari Bapak di rumah yang entah siapa. Perempuan yang bukan ibu namun harus ku panggil Ibu. Entah peristiwa apa yang membuat terjadi seperti itu. Lalu aku bertemu dengan seorang anak lelaki kecil yang katanya adikku di pangkuan Bapakku. Peristiwa yang baru bisa ku cerna ketika aku menjelang dewasa.

Prahara yang ada membuat segalanya porak poranda. Hidup ini harus ku jalani dengan perjuangan berbeda dari anak-anak lainnya. Profesi Bapak sebagai salah satu pegawai negara harus dilepasnya. Ibu yang hanya seorang ibu rumah tangga biasa harus bekerja untuk menghidupi kedua anaknya. Sementara keahliannya hanya pada kemampuan menjahit yang luar biasa. Ibu menguasai kemampuan menjahit yang jarang dimiliki kebanyakan pekerja. Aku tak pernah bangga pada profesinya, karena di pandang sebelah mata tidak hanya oleh kebanyakan orang tapi juga keluarganya. Selalu aku merasa terluka ketika salah satu diantara mereka, menyepelekan ibu, bahkan memperlakukan ibu dengan seenaknya. Dan lemahnya ibu tak bisa melakukan perlawanan apa-apa. Itu yang selalu membuatku berseteru. Ibu tak pernah mengistimewakan dirinya, dan hal itu berpengaruh pada keluaran emosi yang ditampilkannya. Ketidakberdayaan ibu menjadikan dirinya  pribadi yang penuh amarah, tak pernah bisa mengendalikan emosi dengan setiap hal kecil yang dihadapi.

Semasa sekolah aku sengaja menutup mata dan mungkin juga nenek menutup mataku dari prahara yang terjadi. Yang ku tahu dulu aku hanya perlu belajar saja. Bagiku belajar itu seperti sebuah pelarian dari realita kehidupan. Tak sia-sia beberapa kali aku mendapat predikat juara semasa berada di sekolah dasar. Moment-moment pembagian raport yang ku tunggu, karena ketika itu Bapak Ibu akan bertemu untuk mengambil raportku. Dulu, meski aku tinggal bersama ibu, tapi di raportku selalu terbubuh tanda tangan Bapak hingga aku SMA. Hal itu membuat pihak sekolah tak pernah merasa aku adalah anak yang dilingkupi banyak prahara. Mungkin, sikapku ini yang membuat Bapak kembali dan tak ingin melepasku. Kata ibu alasan Bapak kembali ya cuma satu ‘Aku’.

Berada di sekolah menengah aku masih bisa memiliki prestasi hingga terpilih masuk organisasi, yang notabene mensyaratkan prestasi untuk menjadi salah satu pengurus organisasi itu. Bagiku sekolah seperti tempat berlindung, selama berorganisasi aku hanya menjadikan rumah sebagai tempat ku terlelap saja. Berada di kelas tiga sekolah menengah pertama, aku dihadapkan dengan peristiwa yang benar-benar membuatku terisak. Aku mulai goyah.Rasanya itu lebih menyakitkan dari sebelum-sebelumnya. Setiap malam selalu terdengar keributan. Lalu Bapak yang hanya menyalakan televisi setelahnya tanpa benar-benar menyaksikan. Ada satu malam yang secara kebetulan kakaknya nenek sengaja menginap di rumah. Herannya pertengkaran itu terjadi lagi dengan volume yang lebih tinggi. Aku yang terbangun karena suara mereka, benar-benar menjerit histeris lalu terisak lagi dan lagi. Hingga mendapat pelukan dari kedua nenek dan mereka bilang aku harus membiarkan Bapak Ibu karena mereka ada untuk memelukku. Besok paginya, aku harus menjadi anak remaja biasa dan mengganti airmata dengan tawa. Meski ada efek-efek tak ku sadari yang mungkin membuatku tak pernah menikmati kehidupan pertemanan yang ada. Beberapa waktu setelah itu terjadi, keributan terjadi lagi lagi dan lagi. Hingga pada satu hari Bapak memutuskan untuk pergi. Malam dimana aku berpura-pura terlelap, lalu merasakan kecupan Bapak di kening seraya berkata ‘Bapak pergi dulu ya..’ Hingga detik ini Bapak tak pernah tahu bahwa sebenarnya dulu aku tidak tidur. Dan Bapak tidak tahu bahwa setelahnya airmataku tidak cepat surut.

Aku harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk tetap bisa belajar di tengah keributan. Saat itu menjelang Ujian Nasional. Hasilku benar-benar seadanya. Hanya itu batas kemampuanku dulu. Aku meninggalkan sekolahku tanpa ingin meninggalkan kesan. Bahkan berharap aku bisa pergi tanpa perlu berhubungan dengan teman-teman. Aku tak ingin seorang pun melihat aku tak karuan. Masuk sekolah menengah atas, aku hanya melanjutkan langkah seadanya kekuatan. Katanya di usia itu setiap orang akan mengalami pergejolakan, termasuk anak yang berasal dari keluarga aman.

Masih. Aku menjalankan kehidupan dengan ketertutupan. Mungkin hal itu yang membuatku tidak menjalankan pertemanan yang penuh kehangatan dengan anggota kelas yang ada. Semua teman ada di luar kelas saja. Dan seringnya buat have fun. Masa ini adalah masa penuh pertanyaan dan kemarahan juga masa dimana aku diserang amarah dari berbagai penjuru kehidupan. Tak ada nenek yang  melindungi langkahku. Aku harus berhadapan dengan ibu juga masa lalu yang menghantuiku. Selalu Bapak mengingatkan apapun yang terjadi tugasku tetap belajar. Jika perjuangannya adalah memperbaiki tatanan, perjuanganku adalah belajar,begitu ungkapnya. Ada rasa haru ketika aku bisa mempersembahkan prestasi belajarku di tengah prahara yang mengganggu. Aku terharu melilhat ibu menitikkan airmata itu.

Namun aku keliru telah memilih berpacaran. Sebenarnya aku sudah meyakinkan tak ingin berpacaran, karena aku tahu, dulu aku dilingkupi banyak keliru. Tapi airmatanya membuatku luluh pada setiap pernyataannya. Dan hal itu semakin menjadi boomerang, alih-alih menemukan tempat penyaluran keluhan aku malah semakin bungkam. Berhadapan dengan dia yang tak ingin paham, membuatku semakin tak karuan. Sosoknya selalu melihat apa yang terlihat saja. Dia tak pernah melihatku sebagai sosok penuh ragu. Dia selalu mengibaratkan keluargaku bahagia selalu. Tak ada keliru. Terlebih ketika aku mendapat predikat juara di kelasku, dia semakin mengira aku tak banyak luka. Memang, menjalin hubungan dengannya itu seperti candu. Membuatku selalu mengharapkan diperlakukan seistimewa itu. Berangan akan tujuan yang membanggakan. Lalu aku lupa, bersamanya membuatku tidak berdiri pada pijakan. Tidak melihat kenyataan. Di kelilingi banyak kesombongan. Hingga aku meninggalkan kesederhanaan. “He treats me like a queen, but i’m not a queen.” Bodohnya aku, setelah itu aku terbuai dengan harapan yang pernah dia ucapkan. Menggapai-gapai kekosongan. Itulah yang ku lakukan dalam waktu lama. Sia-sia.

Perjalanan semasa sekolah ku kemas rapi. Benar-benar tanpa ada anggapan aku adalah anak broken home. Prinsipku dulu yang penting aku selamat, tidak tenggelam dalam pendidikan, urusan apa yang akan dilakukan setelahnya itu belakangan. Ternyata, apa yang kita simpan dalam-dalam akan menjadi muntahan yang tak tertahankan. Setelah lulus sma aku benar-benar berhadapan dengan kenyataan. Sulit menceritakan karena semua urusan terlalu berbelit. Selalu, alasanku adalah Bapak Ibu. Aku tak pernah mau orang di luar sana menyepelekan mereka. Ada proses bertanya yang ku lakukan pada mereka. Ada proses mencari fakta,  juga proses meneliti setiap problematika yang di hadapi. Benar-benar aku sengaja melakukan itu semua sendiri. Aku punya janji pada ibu, aku juga punya janji pada Bapak. Karena aku punya mimpi pada mereka, suatu hari nanti aku harus menceritakan mereka dengan penuh rasa bangga. Mimpi yang ku jaga, meski harus merelakan banyak hal. Masa remaja, pertemanan, dan cita-cita. Proses yang di lalui dengan banyak pertentangan. Dan hanya untuk mereka.

Ibu, Bapak…

Aku ingin mengantarkan kalian. Mengantarkan ibu pada posisi terhormat seperti sediakala sebagai ibu rumah tangga, bukan wanita pekerja. Mengantarkan Bapak mencapai tujuan yang ada. Memperbaiki posisi dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Meski mendapat banyak cerca dan dikira gila. Aku masih punya keyakinan pada Bapak. Dan masih punya asa untuk mematahkan anggapan mereka. Karena mimpiku cuma satu, melihat kalian bersatu. Meski kini aku hanya melihat dari kejauhan, setidaknya ada upaya yang pernah ku cipta untuk membuat hal ini terwujud nyata. Atas hati, emosi, materi juga diri yang ku beri untuk kalian hingga detik ini, semoga kalian tiba di tempat yang semestinya. Sudah ku lihat ibu tak bekerja seperti dulu. Ku lihat juga Bapak yang mulai menemukan titik cerah perjuangannya. Memang Bapak pernah mengiming imingiku dengan sekolah tinggi dan menggeluti profesi yang menjadikanku berada pada titik profesional, jika perjuangannya telah usai. Namun, perjalanan yang kita hadapi mengubah pemahaman. Lagi pula usiaku sudah menjelang seperempat abad, dan peristiwa-peristiwa yang kita lewatkan memberi sedikit banyak kerusakan. Aku ingin kesembuhan luar dalam. Aku tidak ingin ada anak-anak yang terluka sepertiku dulu. Aku tak mau itu. Terlalu berharga jiwa seorang anak manusia jika dibuat luka. Boleh kan ku pakai hidupku ini untuk mengamankan jiwa mereka saja. Mungkin ini mimpi yang baru. Heheee…

Sekedar Angan

Moeder   : Wil je kip?

Kind        : Nee.

Moeder   : Wat wil je dan?

Kind        : Patat met appelmoes. Waarom bestel je niet?

Moeder   : Omdat de ober niet komt.

Kind        : Waroom komt de ober niet?

Moeder   : Omdat hij het druk heeft.

Kind        : Waarom heeft hij het druk?

Moeder   : Omdat hij veel mensen moet helpen.

Kind        : Waarom gaan we dan niet weg?

Moeder   : Omdat ik iets wil eten. En nou moet je stil zijn!!!

Setelah mendengarkan percakapan antara ibu dan anak ini. Vrauw Mei menceritakan tentang temannya orang Indonesia yang sudah tinggal 5 tahun di Belanda dan sekarang sedang belajar keguruan di Indonesia. Percakapan di atas adalah percakapan seorang ibu dan anak di sebuah restoran yang sedang memesan makanan. Si anak yang cerdas selalu bertanya-tanya kenapa atas setiap jawaban ibunya, dan sang ibu akan selalu menjawab karena dengan kata-kata yang di mengerti oleh nalar anak lelakinya,  hingga sang ibu kewalahan dan berkata “En nou moet je stil zijn!!” (dan sekarang kamu harus diam) diam karena mereka akan makan. Mendengar langsung percakapan ini membuat aku terkesan dengan kekritisan anak lelaki kecil itu.

Kembali ke cerita Vrauw Mei tentang temannya. Dari cerita Vrauw, temannya mempelajari pola mendidik anak TK lalu membandingkan apa yang terjadi di Indonesia dengan di Belanda. Sudah ku duga. Perbedaan sangat terlihat, di Indonesia pola pendidikan anaknya satu arah saja, sementara Belanda mendidik setiap anak untuk mengetahui alasan dari setiap tindakan, sehingga mereka paham atas apa yang boleh dan tidak boleh juga konsekuensi dari setiap tindakan yang di lakukan. Jadi, ketika mereka mendapat hukuman atas sebuah kesalahan mereka akan menerima dengan pemahaman aka sebuah alasan. Pertanyaan adalah awal mula dari pendidikan yang sesungguhnya. Aku berfikir mungkin karena para Meneer di Nederland sana selalu mempertanyakan setiap kejadian, hingga muncul keingintahuan, lalu muncul pertanyaan-pertanyaan baru yang memunculkan cara baru untuk sebuah perbaikan. Terkadang pertanyaan membuat kita berfikir di luar kebiasan dari kebanyakan orang, hingga di temukan sebuah terobosan. Mungkin Indonesia perlu banyak orang yang mempertanyakan, namun tidak hanya mempertanyakan melainkan juga melakukan sebuah tindakan.

Berdasarkan pengalaman mengajar, aku selalu dihadapkan dengan kasus anak-anak yang dinyatakan memiliki keterlambatan daya tangkap pelajaran, hingga terjadi tekanan dan mereka harus berhadapan dengan berbagai cara penyembuhan. Ku panggil dia Dimas. Salah satu anak bunda yang di sekolah mendapat  vonis kurang menyenangkan dari gurunya. Namun, ketika kita berhadapan justru Dimas memiliki bakat yang luar biasa dalam hal penelitian Ilmu Pengetahuan Alam. Hanya saja cara dia menyampaikan dan menerima pelajaran tidak sama dengan anak kebanyakan. Dimas selalu butuh banyak gerakan untuk menjadi paham akan suatu pelajaran. Bunda, karena termakan oleh pernyataan dari sekolahan malah semakin membuat Dimas ketakutan. Bunda kehilangan kendali untuk membuat Dimas merasa nyaman, hingga Bunda merasa kecewa karena telah membuat Dimas terluka, menurut pengakuannya. Beberapa anak ku saksikan dengan kasus yang serupa. Sebut saja Rega, Erwin, Gingin, Elsa, Agi, juga Ari. Yang kini sedang ku saksikan di depan mata sendiri adalah Sofyan. Namun, sering aku tak banyak melakukan tindakan karena merasa kewalahan untuk menghadapi sosok ibu dari mereka. Hanya kepada Bunda aku memberikan sudut pandang yang ada untuk pendidikan mereka. Hingga Bunda merasa ingin memperbaiki diri juga pola asuh pendidikan pada adiknya Dimas, Marsaa. Menurut Bunda pola yang pernah ku terapkan pada Dimas membuat Dimas ketagihan untuk belajar. Bunda menyayangkan dengan aku tidak menjadi teman belajar Dimas lagi karena kesibukan bekerja. Sempat Bunda merasa kehilangan ketika aku pindah ke Jakarta, karena ternyata Bunda sedang ingin menjadikanku teman bicara untuk pendidikan Marsaa.

Meski belum akan menikah dan punya anak aku senang mempelajari psikologis perkembangan seorang anak. Aku juga suka untuk mempelajari soal parenting, dan mempunyai idola sendiri seorang pakar pendidikan anak, karena di dunia ini tak ada sekolah untuk menjadi orang tua. Itu alasanku tertarik untuk mempelajari hal ini. Kelak, menjadi orang tua bukan sekedar kepintaran secara intelektual yang kita perlukan, ada hal-hal yang lebih krusial dari itu ternyata. Aku suka mempelajari dengan langsung menghadapi anak-anak yang di hadapkan dengan kasus-kasus tersendiri, yang setiap pribadi anaknya harus ku hadapi dengan cara berbeda. Hingga aku berangan-angan suatu hari nanti anakku harus mengikuti kelas observasi untuk melihat bakat-bakat pemberian Tuhan. Lalu menstimulasi mereka untuk bergerak di bidang yang menjadi keunggulan, hingga mereka bisa menciptakan pembaharuan untuk sebuah perbaikan. Dan hal itu dilakukan secara personal.

Berhubung hari ini banyak pernikahan dan tadi di hadapkan dengan percakapan ibu dan anaknya, juga ingatan tentang pola pendidikan yang akan di hadapi setelah pernikahan terjadi, aku jadi mereview apa-apa saja yang sudah ku persiapkan untuk sebuah kata pernikahan, sementara aku merasa belum tau apa-apa tentang pernikahan. Selama ini pernikahan mungkin hanya ada dalam angan-angan. Dulu, aku sempat mentabukan kata pernikahan karena banyak ketakutan. Sejalan dengan perkembangan ternyata itu harus mulai dibiasakan, dan menghilangkan kata tabu untuk kata itu.

Membicarakan pernikahan aku selalu teringat dengan kata mahar. Mereka berdua adalah satu kesatuan. Waktuku kecil aku banyak diceritakan tentang kisah para Nabi dan dalam cerita seringkali di sebut mata uang Dinar, jadi selain rupiah aku hanya mengetahui dinar sebagai  mata uang lainnya, bahkan dollar saja dulu aku tidak tahu. Sebelum bekerja mengurusi valuta aku pernah berangan inginkan mahar dalam bentuk Dinar, terlebih Bapa juga menceritakan sejarah mata uang berawal dari Dinar. Namun, setelah mengetahui nilai mata uang  ku rasa Dinar kemahalan. Sedangkan mahar itu kan tidak boleh memberatkan, jadi ku kubur angan dalam-dalam hingga tak ingin di ceritakan.

Mengenal Mas Billy sang kolektor uang kuno sempat berkeinginan mahar dalam bentuk uang kuno. Mengetahui uang jenis apa yang ku inginkan, pecahan 25 bergambar wayang Arjuna Srikandi. Alamaaaaaakkk. Itu lebih mahal. Jadi ku kubur lagi angan yang satu ini. Namun, keinginan mahar dalam bentuk uang kuno masih ku simpan. Dengan alasan makna di baliknya. Menurutku uang kuno itu bernominal kecil namun bernilai tinggi harga jualnya. Filosofinya cintanya sederhana tapi besar maknanya. Teringat, dulu ketika Bapak Ibu rujuk dan melakukan prosesi pernikahan kembali, uang koleksiku pecahan 100 bergambar phinisi dijadikan mahar sebagai pelengkap tambahan. Mungkin karena aku  memberikan mahar uang dari hasilku mengumpulkan, aku merasa harus memperjuangkan keutuhan pernikahan mereka. Kemarin lalu dengan perjuangan yang sulit ku ceritakan, sedikitnya membuahkan hasil belakangan sekarang. Istilah Belanda nya mah ‘Abdi satekah  polah’.

Yaaa… ternyata melalui uang itu aku menemukan makna pernikahan versiku sendiri. Aku berangan-angan diberi mahar dalam bentuk rupiah  yang bisa di bilang kuno karena sudah tidak beredar sebagai alat tukar. Uang yang pernah ku  beri untuk menjaga keutuhan pernikahan Ibu Bapak. Rupiah pecahan 100 bergambar phinisi sebanyak 165 lembar, yang kemudian di rangkai menjadi bentuk phinisi juga dalam sebuah bingkai. 165 lembar pecahan 100 rupiah yang sekarang per lembar seharga 2000 jika membeli pada kolektor uang kuno. Jadi 165x2000= 330.000. Mungkin yang mahal terletak pada pembuatan rangkaian phinisi dari uang itu. Bagiku pernikahan bukanlah sebuah pelabuhan sebagai tempat pemberhentian. Justru pernikahan adalah permulaan dari sebuah pelayaran phinisi kehidupan. Dimana si lelaki menjadi nahkoda, perempuan sebagai penunjuk arah tujuan, dan orang tua keduanya sebagai mercusuar di tepian. Mereka harus bekerjasama untuk menghadapi segala macam deburan ombak kehidupan untuk mencapai satu tujuan. Tuhan Yang Maha Segalanya. Itulah sebab aku tergila-gila dengan angka 165. Harapan akan sebuah pelayaran phinisi kehidupan yang berada dalam perlindungan Tuhan Yang Maha  Esa. Hanya ada 1 saja. Di jalankan dengan keimanan kepada-Nya yang dalam agamaku ada 6 hal yang harus di imani, dan di naungi oleh ke 5 rukun Islam yang ada. Secara kebetulan 165 lembar 100 KP seharga 330.000 sebagai ucapan terima kasih kepada Yang Maha, simbol kesyukuran telah diketemukan dengan si lelaki yang entah siapa (belum tentu juga dia yang sama-sama punya mimpi untuk miliki phinisi, karena keinginan yang sama tidak berarti memiliki tujuan sama), Kesyukuran atas nama-nama baik Yang Maha. 33 atas nama Allah untuk keikhlasan si pria dalam menerima masa lalu yang ku punya. 33 atas nama Allah untuk kesabaran si pria yang membuatku bersyukur padanya atas masa yang sedang ku jalani. Dan 33 atas nama Allah untuk keoptimisan yang dia beri pada masa yang akan kita perjuangkan bersama-sama. Karena jika tanpa atas nama Yang Maha akan sulit baginya untuk menerima hidup yang ku punya. Semua ada di tangan Dia. Sudah ku mantapkan aku tak inginkan Dinar sebagai mahar pernikahan. Barangkali setelah redenominasi nilai rupiah akan sekuat Dinar. Ini benar-benar sebuah khayalan. Angan-angan teman bermalam mingguan. Menjadi kenyataan atau tidak urusan belakangan. Hahaaa…

Setelah berangan tentang mahar pemberian, aku kembali melihat apa-apa yang sudah ku persiapkan. Wakwaaaawwww… Ternyata masih perlu banyak perbaikan.

Kepada kamu calon imamku, harap bersabar seperti aku sedang bersabar pada diriku sendiri untuk ingin segera diketemukan. Maaf aku bersalah, telah menyampaikan kekaguman pada pria yang belum tentu akan menjadi nahkoda sebuah pelayaran. Maafkan aku… Aku sedang berusaha untuk tidak mengungkapkan apa-apa kepadanya. Perlahan ya.. Suatu hari pasti rasa ini akan terkikis habis jika kita sudah diketemukan. Perjuanganku kemarin lalu dan hari ini adalah bekal untukku melakukan pelayaran bersamamu nanti. Aku mempelajari psikologis perkembangan dalam kehidupan adalah bekal untuk mengamankan sebuah pelayaran, ketika dihadapkan dengan berbagai deburan yang mengancam keselamatan aku ingin menenangkan seluruh awak kapal (read: anak-anak). Mempelajari urusan kejiwaan itu selalu butuh penyesuaian, dan berkali-kali aku jatuh bangun untuk menghadapi ketegangan dalam mengamankan perjalanan. Ku harap ketika kita diketemukan aku sudah menguasai pelajaran, dan tidak hanya sekedar teori pengetahuan.

Hari ini aku sedang belajar memegang tanggung jawab, seperti sebuah latihan menjadi seorang nahkoda pelayaran yang akan memegang tanggung jawab besar. Ku kira pelajaran ini adalah ilmu agar aku memahami kamu, bahwa memegang sebuah tanggung jawab itu butuh perjuangan. Mungkin kelak aku akan sangat menghargai perjuanganmu sebagai nahkoda karena aku pernah merasakan sebuah perjuangan itu butuh pengorbanan. Aku sedang mempersiapkan pelajaran baru. Berharap setelah pelajaran ini, aku segera menjejali diri dengan ilmu baru itu. Kemarin lalu aku mengisi jiwaku agar terjaga, tidak jatuh ke dalam ketersesatan. Perjuangan yang membutuhkan waktu lama. Hari ini aku mengisi jiwa dengan takwa, agar bisa menghadapi hari seperti sediakala. Selanjutnya, setelah jiwa terisi dengan tawa karena terjaga, juga sebuah takwa, aku harus mengisi diri dengan kemampuan bertindak nyata. Ilmu-ilmu yang semoga akan meringankan langkah kita. Semua pelajaran kehidupan kemarin lalu, hari ini dan esok hari akan menjadisatu kesatuan untukku menemani langkah besarmu dengan kaki kecilku nanti.

Aaaahhhh…semoga kamu paham aku yang suka berangan-angan. Mungkin aku terlalu menuntut kesempurnaan. Aku hanya ingin perjalanan kita aman, meski harus melalui banyak gelombang. Aku sedang mengisi diri dengan ilmu yang layak. Ilmu yang smoga bermanfaat untukmu, juga ilmu untukku sampaikan pada awak kapal kita kelak. Jangan sampai mereka seperti manusia kebanyakan yang mudah terbawa arus kehidupan. Semoga aku diberikan kekuatan untuk bersabar. Bersabar kepada diriku sendiri, bersabar untuk mengisi diri lagi dan lagi, menjaga diri lagi dan lagi, juga bersabar hingga waktu yang kita harapkan itu datang menghampiri. Anganku semoga tidak lebih dari 3 tahun ke depan saja aku bersabar sendiri mempersiapkan diri. Tapi, seperti kamu ketahui sendiri bahwa bersabar itu tak ada batas itu ini. Selamanya tetap harus bersabar bukan. Terhadap segala angan pun aku harus bersabar, karena aku hanya punya keyakinan. Dan hal yang lebih krusial adalah kita tidak pernah tahu rencana Tuhan. Bisa jadi segala pemikiran yang kita miliki berubah haluan. Maklum segalanya hanya sekedar angan-angan bukan. Tapi ketika Yang Maha berkehendak terjadi maka terjadilah ia. Lalu akan ada jawaban atas segala angan kehidupan.

Berbalik

Maha„, pagi tadi setiba di kantor, aku dikejutkan dengan sosok tinggi berjas cokelat muda di satu sisi meja kerja. Terakhir bertemu ketika dia memberiku surat peringatan atas hasil kerja yang ku punya.

Hari ini audit lagi rupanya. Itu yang ku fikirkan. Aneh„Maha!!! Acara audit hari ini ku sambut riang sejak mula dia datang. Terbalik. Sang audit malah menggerutu dengan berkali-kali berkata stress. Yang membuat aku bingung dan bertanya-tanya. Namun, semua pertanyaanku dijawabnya dengan “Nanti juga kamu tahu.”

Tidak berantakan, hanya saja audit hari ini kurang terkonsentrasi. Dan ya.. Sang audit berkata dengan sendirinya “Maaf„hari ini saya ga konsen.” Membuatku semakin bingung saja.

Ketika aku menyinggung tentang surat peringatan yang datang, aku terkejut karena justru malah yang bersangkutan bercerita tentang surat peringatan. Dia bercerita bahwa dia ada salah dan direksi memintanya untuk lebih teliti lagi. Bercerita tentang kemungkinan dia akan mendapatkan peringatan bahkan juga pemotongan tunjangan. Dan lebih mengejutkan ketika dia bertanya bagaimana jika dia di kembalikan ke posisi semula. Jabatan yang sama denganku. Yang artinya dia turun jabatan.

No response. Aku sedang mencari tahu terlebih dahulu peristiwa apa yang membuat dia seperti itu. Pertanyaan-pertanyaan darinya hanya ku jawab sekenanya. Belum ingin menerka-nerka. Aku butuh fakta, karena itu tak bisa aku memberi jawab yang memuaskan hatinya.

Ada pembicaraan internal antara dia dengan Kacab ku di tempat kerja selepas audit terlaksana. Tertutup. Hanya mereka berdua. Empat mata.

Sudah ku duga, Maha!!! Kacab ku yang satu ini selalu terbuka. Selesai berbicara dengan audit yang kaku itu dia bercerita banyak. Tentang permohonan maaf sang audit yang baru saja disampaikan. Juga tentang kasus yang sedang di hadapkan pada perusahaan.

Usut punya usut, perusahaan sedang mengalami kerugian. Ada penggelapan dana sebesar 450jt yang dilakukan beberapa orang di salah satu anak cabang perusahaan di Jakarta.

Terkejut. Di sela kesibukan yang sedang ku selesaikan, kacabku membisikkan sebuah pernyataan.
“Mba DA, malam ini di perkarakan. Masuk kepolisian ntar malam.”
Dia adalah kunci dari kasus ini. Astaga. Aku mengenal sosoknya. Posisi kita di perusahaan sama. Setiap hari terjadi komunikasi untuk otorisasi transaksi. Dan memang posisi kami ini berpeluang tinggi untuk melakukan penyimpangan. Kita memegang otoritas atas aliran dana perusahaan. Kalo ga kuat iman bisa dengan mudah mempermainkan.

Maha„, lindungi aku ya!!!
Dengan cerita Kacabku ini aku mulai paham akan kegalauan auditku itu. Ketika aku bertanya tentang kemungkinan audit itu dikembalikan ke posisi sebelumnya, Kacabku dengan lugasnya berkata bahwa dia tak akan menerimanya ada di cabang ini. Sudah kepalang kecewa katanya. Yah..begitulah pria.

Ini benar-benar berbalik, Maha!! Sementara dia memberiku peringatan hanya karena urusan sepele keseharian, dia malah mendapat peringatan langsung dari direksi untuk kasus yang tidak bisa di bilang sepele.

Lagi lagi terjadi lagi peristiwa berbalik seperti ini. Di Bandung juga pernah terjadi. Ketika partner yang ada membentak marah padaku hingga keluar kata tak indah. Beberapa waktu setelahnya dia yang mendapat serapah. Bahkan menimpa pula pada istrinya yang sedang mengandung di tempat kerja. Aku biasa saja. Malah rekan kerja yang mengingatkan perlakuannya.

Alhasil, setelah itu sikapnya benar-benar berubah. Dan salah satu di antara kita di cabang itu malah sempat terperangah dengan pernyataan maafnya juga janjinya untuk mulai berubah. Seperti sebuah anugerah, dia mengabarkan kisah pada semua teman perusahaan yang di kenalnya.

Padahal aku tidak berbuat apa-apa, tapi peristiwa berbalik seperti ini layaknya hal yang biasa saja. Jangankan orang lain orang tua saja berbalik padaku. Berhati-hatilah kepadaku, karena aku dibersamai Maha, yang mampu mencipta segalanya menjadi berbalik arah. Hahahaaaa (Oooaalaaaahhh…sombong sekali kamu, nak nak!! #talktomyself)

Kembali Kecil

Tersirat, aku ingin kembali mempunyai jiwa seperti jiwa kecilku dulu. Jiwa ceria di tengah duka. Yang penuh rasa terima tanpa menuntut apa-apa. Tak ada iri juga tak ada ekspektasi tinggi-tinggi.

Ku kira aku belum cukup baik menjalani hidup ini. Apakah jalan yang ku lalui ini benar, Maha?. Katanya, hidupku ini tidak baik. Banyak orang bilang Bapakku adalah pecundang. Mereka menghadang lalu menyerang dengan sergahan kalimat bahwa Bapak adalah pembohong. Yang mengucapkan janji tanpa ada kepastian realisasi.

Aku ingin menjadi kecil lagi, dimana apa yang terjadi tidak menimbulkan konflik berarti pada diri sendiri. Maha„keluarkan aku dari lingkaran ini. Dengan selamat atau tidak, itu urusan setelah aku keluar saja.

Rundukkan Hati

Maha„ aku khilaf. Semua yang ku dapat adalah atas bimbingan-Mu. Hanya saja cara-Mu menyampaikan adalah melaluinya. Aku tidak ingin membesar-besarkan rasa untuk dia. Mulai sekarang bisakah kita bicarakan berdua saja. Tak  perlu Kau sampaikan pesan melalui sosok pria yang bisa saja membuatku terlena. Rundukkan hatiku bukan untuk atau karena manusia. Terlebih lagi dia. Untuk-Mu saja.

Aku sudah terbuka dengan segala rahasia. Rahasia diri juga hati yang benar-benar ku buka tanpa ada helai penutup cerita di hadapan-Mu. Juga keangkuhan yang menjalari diri yang seringkali ku tutupi karena kesombongan yang medominasi. Sama sekali tak  ada rahasia lagi di antara kita. Jadi, bisakah kita bercerita berdua saja?? Cerita yang banyak agar aku tidak menceritakan apa-apa kepadanya. Karena menceritakan banyak hal kepadanya mencipta sebuah ketergantungan saja, yang padanya belum semestinya aku bergantung diri. Ah…sudahlah Maha. Bukankah ini adalah urusan kita.

Untuk malam ini aku hanya meminta tolong rundukkan hatiku saja, rendahkan segala ketinggian hati yang ada, bantu aku selalu untuk terhindar dari kesombongan yang meraja. Dan penyesalan yang ada ku kira hanya kita yang tahu persisnya bagaimana. Ada baiknya ku simpan sebagai rahasia kita berdua di hadapan para manusia. Di depan mereka, cukup lakukan tindakan saja. Bukan begitu Maha.

Berbicara Kepada Maha

Maha„, aku tahu Engkau pemegang segalanya. Kendali dari segala kendali yang ada. Bolehkah aku bercerita?? Banyak. Karena sedikit akan menjauhkanku dari-Mu. Ada seorang pria yang membuat hatiku terbuka, tanpa pernah dia merasa bahwa dia telah mengetuk pintu yang ada. Tak perlu ku sebut nama, ku harap dia membaca saja.

Dulu, aku tidak pernah memandangnya sebagai pria yang akan ku suka. Bahkan, mungkin dia tidak terdaftar dalam list sosok yang ku harapkan ada. Dan karena kesombongan mungkin aku menyepelekannya. Aku merasa dia tak punya makna. Begitulah aku dengan segala kesombongan yang meraja. Merasa bisa melakukan segalanya sementara prahara ada dimana-mana. Merasa semua baik-baik saja tanpa merasa butuh bantuan siapa-siapa, sementara luka menganga disini sana. Sungguh aku angkuh.

Entah ini jalan cerita seperti apa. Mengenalnya kembali, membuatku banyak belajar lagi. Dalam keangkuhanku menutup diri, ketika seorangpun tak ku biarkan masuk untuk menemani, karena ketakutanku menjatuhkan harga diri yang akan melemahkanku, dia menjadi teman meski hanya melalui tulisan, sementara teman-teman terdekatku saja hanya sesekali membaca tulisan yang notabene adalah hal krusial dalam kehidupan yang ku jalankan. Ya..itu hanya kebetulan, tapi aku merasakan sebuah ketulusan. Dia tidak pernah tahu betapa aku hanya berteman dengan kalimat-kalimat pujian, juga semangat kehidupan yang dia berikan. Ketika aku terlempar karena kesombongan, dia ada untuk memberikan nafas ketegaran. Ku sebut sebagai nafas, karena aku bisa merasa lega tanpa merasa dia ada dalam wujud nyata. Hanya melalui udara. Sepertinya.

Udara yang menjadi bekal untuk aku memperbaiki keadaan, tanpa pernah dia mengetahui bahwa ada kehidupan yang telah dia selamatkan secara diam-diam. Karena udara tak pernah tahu, terlebih memilih siapa-siapa saja yang akan menghirupnya. Dan sebagai penghirup aku lupa untuk mengucap kesyukuran atas aroma kehidupan yang disalurkan. Hanya peduli diri sendiri untuk menjalani hidup dengan keangkuhan yang tak pernah melangkah pergi.

Lalu aku pergi dan tidak mempedulikan kabarnya lagi. Hingga ada waktu dimana aku merasa butuh untuk menghirup udara itu kembali, setelah aku  sedikit berbenah diri. Keadaanku mulai membaik ketika kita bertemu kembali. Kali ini tidak hanya melalui tulisan. Ada rasa berkenan untukku mempersilakan kita ada dalam pertemuan. Dulu aku tidak memperkenankan adanya sebuah pertemuan dengannya. Ada keengganan. Mungkin karena keangkuhan yang tertanam. Aku tidak berkenan.

Pertemuan yang ada membuatku ingin berkenalan. Bagiku dia seperti sosok baru meski pernah ada di masa lalu. Kali ini aku menghirup udaranya kembali. Bukan nafas ketegaran yang dia salurkan, melainkan nafas kesyukuran dalam kerenyahan tawa yang dia tampilkan. Sosok yang membuatku belajar untuk menjalani hidup dengan bahagia. Hidup dengan penuh kesyukuran, yang seringkali aku lupakan. Perkenalan yang membuatku merasa aku butuh dia dan tanpa disadari memang sedari dulu aku membutuhkannya, sementara aku tidak pernah berbuat apa-apa untuknya. Begitulah aku, terlalu haus akan puji dan puja hingga lupa untuk berbuat baik pada sesama. Darinya aku belajar untuk menundukkan hati yang ku punya. Belajar untuk tidak tinggi hati seperti sebelumnya.

Sekarang, setelah aku menghirup udara  darinya dan merasa lega, hingga punya rasa bisa dalam menjalani hidup ini dengan bahagia. Aku ingin pergi darinya lagi, dengan membawa bekal udara yang pernah dia alirkan ke dalam rasa. Kali ini, sungguh sebenarnya aku ingin menghirup udara yang disalurkannya lagi dan lagi, agar aku bisa bernafas dengan lega. Namun, aku merasa aku tak pantas untuk itu semua. Atas segala angkuh yang pernah ku punya, dan mungkin masih ada, baiknya aku menyelesaikannya dengan diri sendiri saja. Mungkin aku juga takut, jika pada akhirnya nanti bukan udara darinya yang ada di sekitarku untuk ku hirup dengan sesuka hati. Sebaiknya aku belajar untuk mempertahankan hidup tanpa aliran udara darinya.

Maha„ Engkau selalu tahu kebutuhanku bukan. Seperti dulu yang tanpa ku sadari aku butuh dia, ternyata Engkau membuat cerita dia ada dan hidup dalam kisah yang ku punya. Untuk menegarkan sebuah kehidupan yang nyaris tak terselamatkan. Lalu, seperti kemarin-kemarin Engkau merangkai kisah, mencipta jalan cerita dalam perjalananku menemukan kesyukuran, yang tanpa disadari adalah atas bimbingan darinya. Kepadanya aku tidak punya rasa bangga luar biasa seperti kepada sosok-sosok pria sebelumnya. Namun, kepadanya aku punya rasa hormat berbeda daripada pria-pria sebelumnya. Dan untuk selanjutnya aku hanya menyerahkan pada-Mu saja. Jika dia adalah kebutuhanku di masa depan nantinya, aku percaya Engkau akan merangkai kisah yang indah lagi. Jika pun tidak aku hanya meminta kemudahan untuk mengikhlaskan. Dan kekuatan untuk menundukkan keangkuhan.

Kini, aku hanya ingin melepasnya saja. Membiarkan dia bebas untuk memberi nafas kehidupan pada siapa saja. Aku ingin menarik diri, terlebih hati untuk ku jaga kembali. Sendiri. Aku ingin berbenah diri lagi. Memperbaiki hati yang penuh dengan rasa iri. Jika pun nanti setelah keadaan membaik, bukan udara darinya yang ku hirup, kelak aku akan senantiasa mengucap terima kasih padanya untuk telah membuatku merasa lega dengan aliran udara yang disalurkannya untuk ku cerna. Merapal doa dalam kesyukuran atas kehidupan yang pernah dia berikan sentuhan, secara diam-diam.

-If you love something, let it go. If it comes back to you, it’s your. If it doesn’t, it never was-

Hak Waris Sebuah Polis

Sejak dulu satu-satunya orang yang paling ku khawatirkan adalah ibu. Pernah aku takut pergi kemana-mana hanya untuk menjaga ibu saja. Menjaga dalam urusan rasa. Aku merelakan waktu yang ku punya hanya untuk dikuasainya. Masa remaja, juga menjelang usia dewasa. Hingga aku merasa tak tahu apa-apa. Ibu membuat kekang pada langkah yang ingin ku terjang. Semoga aku bisa menjadi riang dengan kekang yang ibu pegang.

Semuanya hanya untuk membuat ibu terjaga. Untuk menemani jiwa yang dilingkupi banyak prahara, dan aku mengganti banyak cara untuk bisa sampaikan rasa. Perjuangan tiada dua. Hingga tiba pada masa kita ingin membuat satu sama lain merasa bahagia. Membuat ibu menjadi berbeda tanpa ibu merasa beda itu bahagia. Mendapat doa untuk menggapai cita dengan tak memandang usia itu juga luar biasa.

Sekarang ibu bisa berkata iya untuk setiap langkah yang sudah ku tunjuk arah. Atas kesabaran kita menjalani banyak kisah, seharusnya kita saling memberi hadiah. Selain doa aku hanya bisa mencantumkan nama ibu dalam daftar hak waris sebuah polis asuransi yang baru saja menemui kesepakatan.

Kelak jika terjadi sesuatu padaku, ku harap ibu saja yang memiliki haknya. Itu bukan hadiah, hanya sebagian kecil langkah untukku tidak merasa resah, di kala aku lengah.